melintas sejuk tersentuh kulit
perlahan mulai menghela
Menarik masuk sari udara
tak perduli datang dari mana
Belum sempat jarum panjang berputar
Sejuknya kini kian pudar tidak
Belum sempat mata ini terbuka
merasa ada yang berbeda
sentuhanya tak lagi dirasa
seakan benci pergi begitu saja
gerang...
ku mulai gerang dia pergi
dimana di bersembunyi
kapan dikau kembali
Berulang kali menghela nafas
Merasa ini bukan hal yang pantas
Kini ku bersandar seorang diri
Menginjak tanah berbau besi
Gelengkan kepala senyum ku sendiri
Tempat bocah saling lempar tanah
Tak rasakan sakit justru tersenyum indah
Tapi kini sudah berubah
Akibat tuan yang nampak lebih serakah
Disinikah dahulu kegembiraan tertuang
Astaga kini menjadi rute sang pencari uang
Huh ternyata benar,dulu ini milik pribumi
kini berubah,seperti matahari jatuh di kaki Bogor 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar