Teman
Kini ku pergi untuk beberapa windu
Ditempat yang jauh takan bisa kau temu
Apa kabarmu teman,
ku tersenyum dibalik kelambu rindu
Terbayang masa kecil dulu
Engkau seorang perempuan
Yang sedari dulu ku anggap teman
Sama sama tertawa saat berhadapan
Walau pernah terjadi perseteruan
Tapi itu sudah terlupakan
Kini kau besar ditempat yang sama
Tempat dulu berkumpul ria
Dirimu masih disana
Menyandang gelar sarjana
Mungkin akhir tahun kita bisa bersama
Duduk riang berbagi cerita
Mengulas lagi cerita lama
Biarkan saja yang lain murung
Biar iri,sambil berlari
Kita habiskan saja roti nya
Lupakan bosan kita tertawa
sehingga persahabatan kita
tak cuma riuh di maya
Lagi hujan mengguyur basah
Teringat namamu indah
Seorang wanita berlengan indah
Itu dikau,Nikhayatul Khasanah
Senin, 24 November 2014
Rabu, 12 November 2014
Malam Hari Ku
Aku duduk sendiri
Oh tidak dengan seorang paman yang tertidur sedari tadi
Dengan sarung menutipi dahi
menghadap barat tampak sepi
Disekelilingku banyak pohon
tampak basah Tersiram hujan sore tadi
malam ini dingin sekali
Meski kabut perlahan pergi
di kaki gunung pangrango
Aku menulis,ya sambil merokok
dengan secangkir kopi hangat menemani
menjadi dingin cepat sekali
Diam ku masih menunggu
Menunggu pagi tanpa ada yang mengganggu
Mungkin ku tidur dulu
Membiarkan malam indah ini,sampai fajar membangunkan ku
Oh tidak dengan seorang paman yang tertidur sedari tadi
Dengan sarung menutipi dahi
menghadap barat tampak sepi
Disekelilingku banyak pohon
tampak basah Tersiram hujan sore tadi
malam ini dingin sekali
Meski kabut perlahan pergi
di kaki gunung pangrango
Aku menulis,ya sambil merokok
dengan secangkir kopi hangat menemani
menjadi dingin cepat sekali
Diam ku masih menunggu
Menunggu pagi tanpa ada yang mengganggu
Mungkin ku tidur dulu
Membiarkan malam indah ini,sampai fajar membangunkan ku
Selasa, 11 November 2014
Sajak Kawan
____________________________________________WAJAH SENGKETA
seperti kau saksikan,
kawasan hijau nenek moyang
kini berstatus sengketa
melakukan seppuku di muka cermin
agar dapat memandang dan memeriksa
bahkan menyunat rupa kemaluan yang ada daripada berbondong-bondong
(keliaran di tanah kuburan)
sambil membandrol harga diri
sesuai selera yang diagungkan
daripada meneriakkan nama-nama Tuhan
sementara barisan kurung batang menyaksikan
sambil cekikikan September 2007
kawasan hijau nenek moyang
kini berstatus sengketa
pasar malam diam-diam digelar
di tanah kuburan. jual beli pengetahuan
tawar menawar nilai kehormatan
adobsi sampai aborsi janin keluhuran
nampaknya sudah jadi hal biasa
jika dijadikan kudapan atau barang muntahan
bila semua mengaku teman saudara seiman
lantas mengapa lapak topeng dan belati laris
berjualan di pintu gerbang?
melakukan seppuku di muka cermin
agar dapat memandang dan memeriksa
bahkan menyunat rupa kemaluan yang ada daripada berbondong-bondong
(keliaran di tanah kuburan)
sambil membandrol harga diri
sesuai selera yang diagungkan
daripada meneriakkan nama-nama Tuhan
sementara barisan kurung batang menyaksikan
sambil cekikikan September 2007
Minggu, 09 November 2014
Untuk Mu Dari Alam
Gapailah dunia dan akhirat sekaligus
Dan tetapkanlah keduanya dalam satu posisi dan jangan lah kamu menghadap Tuhan mu dengan hati yang mendua ..
jangan lah kita berteriak rawatlah alam disaat kita terus merusaknya .

Senin, 03 November 2014
Rubah Tanah Pribumi
Silir angin begitu segar
melintas sejuk tersentuh kulit
perlahan mulai menghela
Menarik masuk sari udara
tak perduli datang dari mana
Belum sempat jarum panjang berputar
Sejuknya kini kian pudar tidak
Belum sempat mata ini terbuka
merasa ada yang berbeda
sentuhanya tak lagi dirasa
seakan benci pergi begitu saja
gerang...
ku mulai gerang dia pergi
dimana di bersembunyi
kapan dikau kembali
Tempat bocah saling lempar tanah
Tak rasakan sakit justru tersenyum indah
Tapi kini sudah berubah
Akibat tuan yang nampak lebih serakah
Disinikah dahulu kegembiraan tertuang
Astaga kini menjadi rute sang pencari uang
Huh ternyata benar,dulu ini milik pribumi
kini berubah,seperti matahari jatuh di kaki Bogor 2014
melintas sejuk tersentuh kulit
perlahan mulai menghela
Menarik masuk sari udara
tak perduli datang dari mana
Belum sempat jarum panjang berputar
Sejuknya kini kian pudar tidak
Belum sempat mata ini terbuka
merasa ada yang berbeda
sentuhanya tak lagi dirasa
seakan benci pergi begitu saja
gerang...
ku mulai gerang dia pergi
dimana di bersembunyi
kapan dikau kembali
Berulang kali menghela nafas
Merasa ini bukan hal yang pantas
Kini ku bersandar seorang diri
Menginjak tanah berbau besi
Gelengkan kepala senyum ku sendiri
Tempat bocah saling lempar tanah
Tak rasakan sakit justru tersenyum indah
Tapi kini sudah berubah
Akibat tuan yang nampak lebih serakah
Disinikah dahulu kegembiraan tertuang
Astaga kini menjadi rute sang pencari uang
Huh ternyata benar,dulu ini milik pribumi
kini berubah,seperti matahari jatuh di kaki Bogor 2014
Langganan:
Komentar (Atom)