Senin, 24 November 2014

Untuk Anah

Teman
Kini ku pergi untuk beberapa windu
Ditempat yang jauh takan bisa kau temu
Apa kabarmu teman,
ku tersenyum dibalik kelambu rindu
Terbayang masa kecil dulu

Engkau seorang perempuan
Yang sedari dulu ku anggap teman
Sama sama tertawa saat berhadapan
Walau pernah terjadi perseteruan
Tapi itu sudah terlupakan

Kini kau besar ditempat yang sama
Tempat dulu berkumpul ria
Dirimu masih disana
Menyandang gelar sarjana

Mungkin akhir tahun kita bisa bersama
Duduk riang berbagi cerita
Mengulas lagi cerita lama

Biarkan saja yang lain murung
Biar iri,sambil berlari
Kita habiskan saja roti nya
Lupakan bosan kita tertawa
sehingga persahabatan kita
tak cuma riuh di maya

Lagi hujan mengguyur basah
Teringat namamu indah
Seorang wanita berlengan indah
Itu dikau,Nikhayatul Khasanah

Rabu, 12 November 2014

Malam Hari Ku

Aku duduk sendiri
Oh tidak dengan seorang paman yang tertidur sedari tadi
Dengan sarung menutipi dahi
menghadap barat tampak sepi

Disekelilingku banyak pohon
tampak basah Tersiram hujan sore tadi
malam ini dingin sekali
Meski kabut perlahan pergi

di kaki gunung pangrango
Aku menulis,ya sambil merokok
dengan secangkir kopi hangat menemani
menjadi dingin cepat sekali

Diam ku masih menunggu
Menunggu pagi tanpa ada yang mengganggu
Mungkin ku tidur dulu
Membiarkan malam indah ini,sampai fajar membangunkan ku

Selasa, 11 November 2014

Sajak Kawan

____________________________________________

WAJAH SENGKETA

seperti kau saksikan,
kawasan hijau nenek moyang
kini berstatus sengketa

pasar malam diam-diam digelar
di tanah kuburan. jual beli pengetahuan
tawar menawar nilai kehormatan
adobsi sampai aborsi janin keluhuran
nampaknya sudah jadi hal biasa
jika dijadikan kudapan atau barang muntahan

bila semua mengaku teman saudara seiman
lantas mengapa lapak topeng dan belati laris berjualan di pintu gerbang?

sesekali ada baiknya
melakukan seppuku di muka cermin
agar dapat memandang dan memeriksa
bahkan menyunat rupa kemaluan yang ada

daripada berbondong-bondong
(keliaran di tanah kuburan)
sambil membandrol harga diri
sesuai selera yang diagungkan

daripada meneriakkan nama-nama Tuhan
sementara barisan kurung batang menyaksikan
sambil cekikikan

September 2007

Minggu, 09 November 2014

Untuk Mu Dari Alam

Gapailah dunia dan akhirat sekaligus Dan tetapkanlah keduanya dalam satu posisi dan jangan lah kamu menghadap Tuhan mu dengan hati yang mendua .. jangan lah kita berteriak rawatlah alam disaat kita terus merusaknya .

Senin, 03 November 2014

Rubah Tanah Pribumi

Silir angin begitu segar
melintas sejuk tersentuh kulit
perlahan mulai menghela
Menarik masuk sari udara
tak perduli datang dari mana
Belum sempat jarum panjang berputar
Sejuknya kini kian pudar

tidak
Belum sempat mata ini terbuka
merasa ada yang berbeda
sentuhanya tak lagi dirasa
seakan benci pergi begitu saja

gerang...
ku mulai gerang dia pergi
dimana di bersembunyi
kapan dikau kembali

Berulang kali menghela nafas
Merasa ini bukan hal yang pantas
Kini ku bersandar seorang diri
Menginjak tanah berbau besi
Gelengkan kepala senyum ku sendiri

Inikah tanah yang dahulu permai
Tempat bocah saling lempar tanah
Tak rasakan sakit justru tersenyum indah
Tapi kini sudah berubah
Akibat tuan yang nampak lebih serakah

Disinikah dahulu kegembiraan tertuang
Astaga kini menjadi rute sang pencari uang
Huh ternyata benar,dulu ini milik pribumi
kini berubah,seperti matahari jatuh di kaki

Bogor 2014