Senin, 23 Maret 2015

aku air yang jatuh

saat mentari perlahan tenggelam
tepat saat pertanyaan dan ungkapan kusulam
saat bibir mulai menghiraukan lubuk yang dalam
disitulah perlahan datangnya kelam

seperti malam diguyur hujan, aku adalah air yang jatuh
terjatuh dan menjadi basah,
tak bodoh aku menyangkamu
engkau kenakan mantel hangat dan payung lebarmu
sama sekali engkau tak mau basah
sejuk guyuran hujan yang bukan tak sengaja jatuh
dengan acuh kau tinggalkan
yang kini menjadi genangan
hanya menunggu hilang ditarik awan

fadly

Jumat, 27 Februari 2015

mendung hampiri ibu

cahaya mengusir mendung
tapi kini menghampiri ibu, menjadi murung
sungguh buat aku jadi bingung
belum usaikah atau memang masih mendung ?

kenapa cahaya enggan datang lalu singgah lama
hingga aku benar tak merana
melihat arah jalan jadi jelas arahnya

Jumat, 16 Januari 2015

AKHIR KISAH PEJUANG

memang telah tiba waktunya Yang kuasa telah menyelesaikan kini halaman terakhir telah ditulisnya, dengan nafas tersengal dan gemetaran disaat fajar perlahan naik ia akhiri sudah kisahnya perangnya telah henti, dan pedang tak akan lagi di hunuskan sudah saatnya untuk pergi dari medan yang kelam dan menyulitkan ketika semua sudah ditempuh dan coba jalani ia pergi menempuh jarak yg jauh, bermil-mil jaraknya. kondisinya tak memungkinkan ,tapi patuh mengemban titahnya ia memberikan kisah untuk pelajaran kami putranya, agar kami baca dan pahami karena ia tak ingin kami terjebak di medan bahaya 15 januari 2015

Rabu, 03 Desember 2014

Benalu Di Tubuh Layu

Bagai bunga pinus perlahan jatuh
Terdorong angin yang dibawa kelam
Pergi bukan karena aku tak patuh
Karena siang telah tenggelam

Setumpuk tanya penuhi dinding hati ku
Siapa gerangan disana,hinggap hanya untuk merusak.
Tak malu ,
Laksana benalu
Menggerogoti raga yang mulai retak,
Layu

Aku adalah putranya,
dari raga yang kau rusak
Jadi merasa bodoh tak berbekal ilmu,
Adakah cara untuk melepasmu?
Dari tubuh yang kian sayu

Senin, 01 Desember 2014

Riangku dengan sang pagi,saling kejar kejaran
Layaknya tak kenal bosan,lari kesana kemari
Malas aku dengan sunyi
Murung sendiri,
Aku benci

Kesal aku dengan gelisah
Tak mau aku resah
Kenapa malam hadir lama sekali
Tak pergi saja,lalu memanggil pagi
Dan ajak aku berlari lagi

Gerang,lalu ingin teriak ku
Lalu lalang tapi tak tersentuh
Meski terdegar sangat gaduh
Hingga lembaran kertas tertiup angin tak jatuh
Kanapa mereka tak coba buka mata
Agar tarlihat
Aku nyata

Desember 2014

Senin, 24 November 2014

Untuk Anah

Teman
Kini ku pergi untuk beberapa windu
Ditempat yang jauh takan bisa kau temu
Apa kabarmu teman,
ku tersenyum dibalik kelambu rindu
Terbayang masa kecil dulu

Engkau seorang perempuan
Yang sedari dulu ku anggap teman
Sama sama tertawa saat berhadapan
Walau pernah terjadi perseteruan
Tapi itu sudah terlupakan

Kini kau besar ditempat yang sama
Tempat dulu berkumpul ria
Dirimu masih disana
Menyandang gelar sarjana

Mungkin akhir tahun kita bisa bersama
Duduk riang berbagi cerita
Mengulas lagi cerita lama

Biarkan saja yang lain murung
Biar iri,sambil berlari
Kita habiskan saja roti nya
Lupakan bosan kita tertawa
sehingga persahabatan kita
tak cuma riuh di maya

Lagi hujan mengguyur basah
Teringat namamu indah
Seorang wanita berlengan indah
Itu dikau,Nikhayatul Khasanah

Rabu, 12 November 2014

Malam Hari Ku

Aku duduk sendiri
Oh tidak dengan seorang paman yang tertidur sedari tadi
Dengan sarung menutipi dahi
menghadap barat tampak sepi

Disekelilingku banyak pohon
tampak basah Tersiram hujan sore tadi
malam ini dingin sekali
Meski kabut perlahan pergi

di kaki gunung pangrango
Aku menulis,ya sambil merokok
dengan secangkir kopi hangat menemani
menjadi dingin cepat sekali

Diam ku masih menunggu
Menunggu pagi tanpa ada yang mengganggu
Mungkin ku tidur dulu
Membiarkan malam indah ini,sampai fajar membangunkan ku